Minggu (9/1/2005) malam, Dapur Umum Relawan Sulsel di Rumah Sakit (RS) Zainoel Abidin, geger. Seperti hari sebelumnya, setelah matahari terbenam, relawan Sulsel kumpul melepas stress di lantai dua rumah sakit.
Tim Evakuasi Mayat biasanya melakukan rapat evaluasi tentang hasil kerja seharian dipimpin Andi Muhammad Taqwa Yunus.
Di saat istirahat seperti itulah, biasanya datang panggilan lewat pengeras suara (Airphone), “Makan, makanan sudah siap.” Tanpa menunggu panggilan selanjutnya, segera anggota relawan “berhamburan” ke dapur umum yang di ujung lantai dasar RS Zainoel Abidin.
Taqwa Yunus memilih istirahat setelah memimpin rapat evaluasi. Hingga sebagian besar anggota tim sudah makan, Taqwa masih asyik tidur.
Sekitar pukul 10.30 WIB, sejumlah relawan Jepang mendekati posko. Tak ada yang berani mengajaknya ngobrol. Petugas dapur umum Sulsel pun hanya tertunduk, “Please!,” katanya mempersilakan mereka makan.
Tanpa banya komentar, sambil tersenyum, tim relawan dari Jepang itu segera menyambar piring dan melahap nasi putih, ikan goreng kering, plus sayur asam, “made in” tim dapur umum Sulsel. Usai makan, Mitsuo, relawan yang mengaku utusan Universitas Kyoto Jepang bercerita dalam Bahasa Inggris.
Dia mengaku diutus universitasnya sebagai tenaga medis di Aceh. Dia datang bersama sejumlah teman-temannya yang lain. Malam itu, mereka tidur di lantai II, RS Zainoel Abidin. Mitsuo bercanda dengan relawan Sulsel hingga pukul 11.30 WIB. Setelah itu dia meninggalkan tempat ke lantai II. Dia tidur di dekat pintu WC RS tersebut.
Tengah malam, Taqwa bangun. “Kambie, bagaimana kalau kita cari makan,” katanya. “Ayo,” jawabku. Lalu dia meminta Gajah Mada, Komandan Regu Evakuasi (Danru) Tim Sulsel, “mengintai” kondisi dapur umum. “Siap, Komandan,” jawab Gajah mantap, lalu segera meluncur ke dapur umum.
Tak lama berselang, Gajah kembali datang tergopoh-gopoh. “Siap komandan, persediaan makanan habis. Nasi banyak, tapi ikan dan sayur sudah habis,” kata Gajah dengan suara lantang.
Suara seperti itu memang selalu diperdengarkan kelompok tim ini.
“Kenapa bisa habis,” tanya Taqwa.
“Bagaimana tidak habis, Komandan. Tadi beberapa relawan Jepang ikut makan,” jawab Gajah.
Dapur umum Sulsel memang terbuka untuk umum. Bukan hanya relawan dalam negeri, seperti dari Jakarta dan Sumatera Selatan, yang kerap ikut makan. Relawan Australia, Cina, Spanyol, dan Jepang pun kadang ikut membaur, makan bersama.
Pasien di RS juga ikut ditanggung makannya. “Kita alokasikan dana sebesar Rp 2 juta per hari untuk makanan 200 pasien,” jelas Prof Dr Idrus Paturusi, Penasihat Tim Sulsel Peduli Aceh.(*)
Judul asli : https://makassar.tribunnews.com/2017/12/27/catatan-kecil-relawan-sulsel-dalam-tsunami-aceh-mengapa-sspa-disebut-pasukan-sapu-bersih?page=all, Penulis: AS Kambie
𝐓𝐈𝐏𝐈𝐊𝐎𝐑.𝐢𝐝 MAKASSAR, Proses hukum yang menjerat H. Hasan kini memasuki babak baru. Melalui kuasa hukumnya,…
(Jaya Abadi GMBI - NKRI Harga Mati) Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Swadaya Masyarakat Gerakan…
TURNAMEN CATUR AKHIR TAHUN SUL-SEL CUP II 2025 MAKASSAR, 31 Desember 2025 – Mengakhiri kalender…
PRA-PORPROV CABANG OLAHRAGA CATUR KABUPATEN JENEPONTO 2025 Jeneponto 28 Sept 2025 – Suasana penuh semangat…
Perkembangan OTT KPK terhadap Wamenaker Immanuel Ebenezer: Dari Penangkapan hingga Penetapan Tersangka Perkembangan OTT KPK…
Di Balik OTT Wakil Menteri Ketenagakerjaan: Jejak Pemerasan dan Bayang-Bayang Bisnis Sertifikasi 𝐓𝐈𝐏𝐈𝐊𝐎𝐑.𝐢𝐝 Jakarta, 21…